Home Gadget Review Ponsel – Mengulik Spesifikasi VIVO Y17

Review Ponsel – Mengulik Spesifikasi VIVO Y17

9
Review VIVO Y17
Review VIVO Y17

Ketika sedang mencari ponsel android dengan kapasitas yang besar, tak sengaja saya ketemu dengan Vivo Y17. Dan setelah mengulik spesifikasinya, saya jadi ingin membagikan review ponsel Vivo Y17 tersebut di sini.

Bagi saya pribadi, kapasitas baterai itu biasanya menjadi salah satu pertimbangan saat mau membeli smartphone terlepas dari spesifikasi dan desainnya. Alasannya karena baterai itu ‘kan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi seberapa lama sih kita memakai smartphone untuk beraktifitas.

Nah, tak ada angin tak ada hujan dan tak ada iklan, belum lama ini Vivo merilis smartphone seri-Y terbarunya. Yang jualannya di baterai jumbo. Dan ada beberapa spesifikasi yang menurut saya “kok sepertinya cukup menarik ya?” untuk smartphone dengan harga 3 jutaan.

Kira-kira sebuas apa sih battery-life nya? Dan apakah sebanding dengan performanya?

Review Vivo Y17

Layar Vivo Y17

Oke, dimulai dari sektor yang tidak bisa lepas dari pandangan saat pertama kali memakai smartphone-nya yaitu layarnya. Ya, Vivo Y17 ini dibekali layar yang cukup jumbo ya, 6.35″ dan dibekali resolusi HD+. Kenapa yah tidak dikasih Full HD saja sekalian?

Layar besar tapi resolusinya kecil akan berpengaruh pada kerapatan piksel yang rendah juga. Awalnya saya berpikir seperti itu juga tapi setelah saya memakai Vivo Y17 ini sekitar 1-2 hari pertama saya merasa tone warna layarnya asik juga dan membuat saya lupa kalau resolusinya cuma HD+.

Malah tidak kelihatan kalau ini resolusi HD+ kecuali kalau melihatnya dari jarak sangat dekat atau melihatnya memakai mikroskop – lebay mode.

Nah, daripada meributkan resolusinya yang cuma HD+ di sini saya malah concern dengan ketidakmampuan Vivo Y17 untuk menampilkan resolusi High Definition atau HD saat dipakai untuk menonton film-film streaming langganan, contohnya seperti di Netflix.

Dan memang, saat di-cek Vivo Y17 ini hanya punya sertifikasi Widevine DRM di Level 3. Jadi, agar bisa support High Definition itu harus Level 1 ya. Dan dengan layar sebesar ini, serta menampilkan resolusi di bawah 720p tampilannya agak terasa agak pecah dan kurang puas lah.

Tapi tenang saja, kalau untuk sekedar menonton YouTube itu semua tidak ada hubungannya dengan sertifikasi Widevine DRM. Jadi, tetap memakai resolusi maksimal layarnya, yaitu 720p.

Selain itu, ada beberapa alasan lain kenapa sebaiknya Vivo Y17 ini memakai layar resolusi HD+. Tapi bakal saya jelaskan di segmen berikutnya. Jadi, simak artikel ini sampai habis ya!

Desain Bodi Vivo Y17

Lanjut ke bodi-nya yang overall terbungkus oleh plastik atau bahasa halusnya polikarbonat. Harga smartphone 3 juta tapi materialnya plastik? Tapi kalau dipikir-pikir, makin kesini memang makin jarang sih smartphone dengan bodi metal.

Karena sekarang tren-nya smartphone dengan warna gradasi. Jadi, kalau materialnya tidak kaca, ya plastik. Nah, mengingat Vivo Y17 ini main di segmen menengah atau mid-range, maka bahan plastik masih oke-oke saja lah demi mendapatkan warna gradasi dan pantulan yang ciamik.

Omong bin omong, smartphone ini kalau terkena pantulan cahaya warna biru-nya bakal terlihat sangat gonjreg. Nah, meskipun masih pakai plastik menurut saya build quality-nya masih cukup solid loh, ditambah grip-nya juga enak.

Bagi kamu yang suka gasrak gusruk memakai smartphone, lapisan ini agak mudah tergores yah, so beware of it guys. Supaya aman, sebaiknya langsung pasang jelly case bawaannya saja.

Next, ke sisi bawah bodi dan Teng Tong, Port-nya masih microUSB. Redmi Note 7 saja yang harganya cuma 1.99 juta saja port-nya sudah dibekali USB Type-C. Tapi ini? Beda harga 1 juta lebih mahal, tapi port USB-nya masih microUSB.

Saya paham keresahan ini dan ini bakal menjadi pembahasan lagi. Port USB Type-C sudah seharusnya diadopsi massal untuk smartphone zaman now mengingat fleksibilitasnya yang lebih baik.

Oke, mungkin itu saja yang kentang alias nanggung dari Vivo Y17. Di luar itu, saya menemukan beberapa hal yang membuat Vivo Y17 ini rasanya kok menarik sekali yah dan tak ada lawan di harga 3 jutaan kurang dikit.

Baterai Vivo Y17

Yang pertama dan yang sudah di-highlight sejak dari box-nya yaitu kapasitas baterai. Jarang-jarang ya, Vivo menciptakan smartphone dengan baterai 5000 mAh. Kebanyakan maksimal di 4000 mAh saja.

Memang sih, baterai 5000 mAh itu bukanlah hal yang baru di smartphone. Sebelumnya, saya sudah pernah coba di ASUS Zenfone Max Pro M1 dan penerusnya, ASUS Zenfone Max Pro M2.

Dan untuk melakukan review baterai dengan 5000 mAh ini agak capek, karena rasanya tidak habis-habis dayanya padahal sudah dipakai untuk banyak hal seperti menonton film, main game, YouTube sampai bosan scroll-scroll timeline sosial media, foto-foto atau merekam video sampai smartphone-nya hangat.

Yang jelas, Vivo Y17 ini bisa saya geber untuk banyak hal lebih dari 1 hari. Rekor sebelumnya, saya pernah pakai Vivo Y17 ini hingga 1 hari 16 jam, atau sekitar 1.5 harian.

Saya memakainya untuk tugas-tugas yang cukup intensif termasuk bermain game online, yang tentu saja mengkonsumsi daya yang tidak sedikit. Rekor sebelumnya, saya pernah bermain PUBG Mobile dengan total durasi hampir 6 jam di waktu 1.5 hari itu tapi bermainnya tidak non-stop yah, karena pasti pegal juga kalau bermain non-stop.

Oh ya, saya juga sudah menguji baterai 5000 mAh ini dengan aplikasi PCMark. Waktu itu tembusnya di 12 jam dengan tingkat kecerahan layar di 50%. Baterai saat itu masih tersisa sekitar 18%. Saya penasaran, kok bisa dewa sekali ya battery life-nya? Tentu baterai yang awet ini tidak semata-mata karena kapasitasnya yang besar juga.

Resolusi HD+ yang biasanya dihujat oleh Netizen ini ikut andil besar membuat baterai Vivo Y17 ini super awet, secara resolusi HD+ itu tidak makan daya sebesar layar yang Full HD+untuk menghidupi jutaan pikselnya tadi.

Chipset Vivo Y17

Lalu dari segi chipset-nya. Ya, Vivo Y17 ini diotaki dengan dapur pacu Helio P35. Secara konfigurasi, chipset ini sangat mirip dengan Snapdragon 625. Sama-sama 8-core, sama-sama pakai Cortex A53.

Yang berbeda cuma clockspeed-nya. Vivo Y17 ini lebih tinggi, di 2.3 GHz dan arsitektur-nya juga lebih modern, atau lebih kecil juga yaitu di 12nm. Sudah arsitektur-nya kecil, lalu semua memakai Cortex A53 jadi, semakin hemat lagi konsumsi baterai-nya.

Tapi karena typical chipset-nya ini low-power karena memakai Cortex A53 semua, tentu Vivo Y17 ini tidak se-ngebut smartphone lain yang chipset-nya sudah memakai custom core seperti Helio P60 atau Snapdragon 636 ke atas.

Dipakai bermain PUBG Mobile, setting grafisnya mentok di rata kiri alias low. Meskipun dipakai bermain game, tidak ada lag yang parah sih. Ya ada sih sedikit frame drop, tapi menurut saya tidak sampai membuat experience bermain game-nya sampai ke level yang mengganggu.

Lalu, bermain game yang grafis dan pergerakan karakternya lebih brutal seperti Marvel Future Fight mungkin batuk-batuknya agak terasa kalau dimainkan di mode High Frame Rate. Ya, saran saya sih main di mode biasa saja yang jauh lebih nyaman.

Selain baterai-nya yang super awet hal kedua yang membuat Vivo Y17 ini terasa worth it yaitu storage-nya yang luber-luber di 128GB.

Range harga segini biasanya cuma dapat Storage 64GB. Tapi Vivo Y17 ini berani sekali memberikan Storage 128GB, lalu masih diberikan opsi untuk menambah storage lewat microSD.

Jadi, yang hobi menyimpan banyak file terutama file game, tentunya bakal kenyang sekali menginstall banyak aplikasi tanpa khawatir muncul notifikasi space running out.

Kemudian RAM 4GB-nya rasanya cukup untuk kebutuhan multi-tasking zaman now. Yang jelas, dengan UI yang baru Funtouch 9 di Vivo Y17 ini terasa lebih smooth dan lebih enak dilihat.

Perubahan yang paling terlihat ada di tirai bawah yang lebih terasa Android Pie-nya. Bloatware-nya sih masih banyak yah, tapi yang jelas bisa di uninstall BaBe, TikTok dan Lazada.

Dari segi fungsi, tidak banyak pembaharuan di Funtouch 9 ini. Untuk kecepatan sensor biometriknya, mulai dari menyetor wajah atau meng-tap jari, sama-sama ngebut khas smartphone Vivo.

Fitur Assistant Jovi ini butuh tidak butuh sih tapi untuk memantau skor sepak bola atau menghitung jumlah langkah, ini cukup informatif dan accessible dari layar homescreen.

Baterai jumbo sudah, Storage jumbo juga sudah lalu apa lagi yang keren dari Vivo Y17?

Kamera Vivo Y17

Kameranya. Di lihat dari luar saja, triple camera ini seksi juga untuk smartphone seharga 3 jutaan. Yang biasanya cuma 2, kali ini ada tambahan 1 lensa yaitu kamera 8MP yang bisa mengambil foto Ultra-Wide angle, menemani kamera utama 13MP dan 2MP untuk depth sensor.

Saat mencobanya, kamera utamanya ini punya typical warna natural, karena saya baru sadar kalau di mode Normal, saya tidak menemukan fitur AI di sini. Jadi ya, warna fotonya apa adanya saja tidak ada aksen gonjreng supaya tone-nya lebih pop up.

Tapi saat mencoba lensa Wide-Anglenya, BOOM! Warna fotonya jauh lebih gonjreng! Saya sempat berpikir, apa AI-nya ini tertukar atau bagaimana. Tapi yang jelas, dengan tambahan lensa Ultra-Wide angle-nya Vivo Y17 ini asik untuk foto-foto pemandangan yang butuh angle lebar.

Wide angle-nya bahkan bisa sampai 120 derajat. Jadi, tidak perlu maju mundur cantik demi bisa memotret obyek dengan background yang lebih luas.

Tapi memang, untuk foto-foto dengan memakai kamera utama ini di beberapa kondisi nampak over-white kadang juga tidak tajam, padahal fokus-nya sudah dikunci. Memang sih, gimmick 3 kamera bisa menutupi hal-hal seperti ini, tapi saya akui kualitas foto Wide-Angle-nya lebih Instagramable.

Selama tidak di zoom, aman kok fotonya. Tapi kalau sudah di zoom, hasil fotonya serasa foto memakai bahan cat air. Untuk foto-foto indoor atau foto-foto di lowlight kamera Vivo Y17 ini terlihat sangat-sangat biasa.

Di range harga segini, smartphone sekelasnya sudah dibekali mode malam, yang membuat foto lowlight terlihat lebih terang dan juga tajam. Jadi kalau cuma modal AI seperti ini nothing special kelihatannya.

Untuk foto-foto bokeh, depth sensor 2MP-nya cukup bisa diandalkan untuk memberi efek kedalaman yang cukup natural. Efek kedalamannya juga bisa diatur sebelum dan sesudah mengambil foto.

Mau yang nge-blur sekali, nge-blur biasa atau tidak nge-blur sama sekali, bebas, tinggal sesuaikan saja dengan selera.

Saat mencoba kamera depan, baru kali ini saya selfie smartphone Vivo tapi beautify-nya tidak cetar. Malah cenderung biasa-biasa saja, seperti bukan smartphone Vivo. Tapi ya, kalau yang memakai cowok, wajar kalau mencarinya yang biasa-biasa saja begini.

Bokeh-nya juga not bad lah yah. Minusnya, kalau pakai mode Portrait jadi tidak bisa memakai efek cakepnya.

Dipakai untuk merekam video, kamera Vivo Y17 ini mentok di Full HD 30fps. Warnanya cukup tajam, dynamic range-nya juga cukup luas dan ya, cukup menghibur sih hasil videonya. Minusnya cuma absennya fitur stabilisasi seperti EIS. Jadi ya, kalau cuma dipegang tangan bakal terasa efek gempa bumi-nya.

Oh ya, lensa Wide Angle-nya juga bisa dipakai untuk video ala-ala action cam yang butuh angle luas. Dan sama seperti hasil fotonya, di mode video ini saturasi lensa white-nya terlihat lebih gonjreng.

Kamera depan smartphone ini bisa merekam video dengan resolusi maksimal Full HD di 30fps. Video-nya lumayan stabil, dan dynamic range-nya menurut saya tidak begitu bagus, tapi worth it sih untuk harga segini. Menurut kamu bagaimana hasilnya?

Pengecasan Baterai Vivo Y17

Oke, kembali lagi ke baterai-nya ya. Kapasitas 5000 mAh bisa dibilang bukan angka yang kecil. Smartphone dengan baterai 5000 mAh biasanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi daya dari 0%-100% dengan charger biasa.

Nah, Vivo Y17 ini ternyata tidak cuma jualan baterai besar saja adapter bawaannya memang sudah dirancang bisa untuk mengisi daya dengan cepat lewat dual engine fast charging yang sebelumnya cuma ada di Vivo seri-V.

Dengan output hingga 18W, mengisi daya baterai Vivo Y17 ini dari 10% sampai terisi setengahnya atau 50% butuh waktu 41 menit. Untuk 1 jam pertama, baterainya sudah terisi 67%. Lalu setelah 1.5 jam proses charging, baterai Vivo Y17 ini sudah terisi 90%.

Dan untuk sampai benar-benar penuh 100%, waktu charging yang dibutuhkan yaitu 2 jam 14 menit. Waktu 2 jam kedengarannya lama ya?

Tapi ya kembali lagi, ini 5000 mAh loh! Baterai sebesar ini biasanya butuh waktu pengisian daya sekitar 2.5 jam atau bahkan hampir 3 jam kalau pakai charger standar 10W.

CONCLUSION

Jadi kesimpulannya Vivo Y17 ini lebih cocok untuk siapa ya? Kalau Kalian mencari smartphone tapi patokannya skor Antutu harus tinggi, layarnya harus Full HD dan USB-nya harus USB Type-C saran saya, segera hapus smartphone ini dari daftar.

Tapi, kalau Kalian mencari smartphone yang baterainya tahan lama, tahan tidak bertemu colokan lebih dari 1 hari atau bahkan 2 hari untuk aktifitas yang tidak terlalu intens dan sudah dibekali fast charging kalau dari sisi storage-nya sudah besar juga, yaitu 128GB dan masih dikasih slot microSD dan yang terakhir, punya triple camera yang salah satunya pakai lensa Ultra Wide Angle dan semua itu dibungkus dengan harga yang cukup kompetitif di harga 3 juta kurang seribu, Saya rasa Vivo Y17 ini tidak ada lawan untuk sekarang ini.

Kalaupun ada smartphone sekelasnya yang punya baterai jumbo biasanya tidak dibekali teknologi fast charging atau smartphone itu punya baterai jumbo plus fast charging tapi storage-nya cuma mentok di 64GB.

Mungkin yang sedikit ketinggalan itu di sektor performanya ya. Tapi kalau Vivo Y17 ini memang kiblatnya untuk menjadi smartphone dengan baterai level Dewa. Dan menurut saya, Helio P35 ini sudah sangat cocok di Vivo Y17.

Murah atau mahal, semuanya kembali pada selera dan kebutuhan, dan yang pasti budget kamu. Oke, sekian artikel mengenai Vivo Y17. Semoga dengan memakai VIVO Y17 ini kalian semakin produktif menjalani hari dan semangat dalam melakukan pekerjaan diberbagai bidang yang kalian geluti.

Semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk Share ke teman-teman yang belum tahu mengenai VIVO Y17 ini yah!

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of