Kalau dilihat dari depan, smartphone Samsung Galaxy A30 dan A50 ini nyaris tidak bisa dibedakan, sangat kembar! Ukuran layarnya sama-sama 6.4″dengan desain poni “seuprit” yang mereka namakan dengan Infinity U Display.

Ya, desain seperti ini memang sudah sangat cukup pasaran sih. Penyebutannya saja yang berbeda-beda.

Ada waterdrop, ada dotdrop, intinya sih ini poni mungil untuk menempatkan kamera depan. Dan tidak cuma depan saja, di sisi kanan dan kiri dan juga atas-bawah, keduanya kompak dalam penempatan port dan tombol. Slot SIM-nya sudah triple, port USB-nya sudah type-C.

Speaker-nya di kanan bawah yang tak mudah tertutup saat dioperasikan di mode landscape. Dan tentunya masih mengusung jack audio 3.5mm.

Saat melihat bodi belakangnya baru terlihat bedanya. Dimulai dari pola gradasinya dulu yah. Di sini Galaxy A50 terlihat lebih magic. Ya, saya beli yang varian warna putih. Tapi putihnya itu tidak biasa loh! Kalau terkena pantulan cahaya ada semacam efek pelangi. Untuk varian warna lain juga sama.

Kalau kata Sobat HAPE, warnanya seperti TAM-nya China versi KW. Tapi ini unik sekali sih, saya baru kali ini menemukan gradasi warna smartphone yang magic seperti ini.

Sementara Galaxy A30 gradasinya lebih mirip Zenfone Max Pro M2. Meski di sini efek guratannya lebih banyak kalau kena pantulan cahaya. Karena begitu cakepnya gradasi yang diperlihatkan, saya hampir tak menyadari kalau ternyata bodinya berbahan plastik.

Dengan permukaan glossy seperti ini, ditambah tanpa bonus jelly case saya tak bisa memastikan permukaan belakangnya bakal baik-baik saja, kalau kamu sering mengantongi smartphone berbarengan dengan uang logam atau kunci motor.

Jadi memakaikan jelly case itu sangat-sangat saya sarankan ya! Lebih asik lagi cari yang transparan saja agar warna unik bodinya tetap kelihatan. Lalu jumlah kameranya juga berbeda ya di sini.

Samsung Galaxy A30 vs A50

Ya, harga lebih mahal memang tidak bohong sih. Galaxy A50 mendapat 1 tambahan lensa. Jadi, satunya triple-cam, satunya dual-cam.

Galaxy A50 ini sudah dibekali dengan on-screen fingeprint alias sensor sidik jari di layar. Makanya jangan heran kalau sisi belakangnya ini polos. Dan berbeda dengan Galaxy A30 yang lokasi fingerprint scanner-nya masih konvensional.

Selain ukuran layar yang sama, keduanya juga kompak memakai panel layar khas smartphone premium Samsung apalagi kalau bukan Super AMOLED.

Hal ini sekaligus menjadikan Galaxy A30 sebagai salah satu smartphone dengan layar Super AMOLED dan resolusi Full HD+ yang harganya cukup terjangkau dan bisa kamu temukan dengan mudah di pasaran, setidaknya untuk saat ini.

Layar Super AMOLED juga membuat keduanya tidak punya saingan dalam sektor display, karena di range harga Rp 3-4 jutaan paling-paling dapat layar IPS atau Super AMOLED tapi resolusinya cuma HD+.

Sudah layarnya besar, panelnya mewah, menonton film streaming atau bermain game bakal mendapat pengalaman visual yang jauh lebih nikmat.

Sekilas Fitur

Oh ya, ada yang menarik nih. Di sini kamu bisa memakai tampilan mode malam bagi yang suka tampilan mode UI yang gelap-gelap. Hitung-hitung lumayan hemat daya yah. Karena layar Super AMOLED sendiri lebih bersahabat dengan daya saat memakai tema atau wallpaper yang serba gelap.

Mode always on display-nya juga masih dipertahankan dan selalu menjadi ciri khas lini Galaxy A.

Bicara soal UI, Galaxy A30 dan Galaxy A50 ini sudah pakai OneUI. Tampilan antar-muka barunya Samsung yang gayanya lebih ke Android Stock. Tampilannya sendiri lebih simple dan juga flat dengan desain ikon aplikasi yang besar-besar. Versi Android-nya sendiri sudah pakai Android Pie 9.

Android lebih baru, apakah banyak fitur baru juga?

Yang paling kelihatan sih, fitur kesejahteraan digital atau lebih dikenal digital well-being. Itu loh, fitur yang memonitor aktifitas kamu apa saja di smartphone berapa lama memakai aplikasi tertentu, dan otomatis meredupkan layar menjadi abu-abu menjelang waktu tidur.

Meskipun simple, OneUI ini masih memboyong bloatware atau aplikasi bawaan yang mungkin tak semuanya dipakai pengguna.

Masih ada berbagai aplikasi pre-install seperti aplikasi Microsoft misalnya, secara Samsung dan Microsoft memang sedang bekerja sama. Lalu ada Bixby, Samsung Pay, Samsung Max, S LIME dan masih banyak lagi pokoknya.

Tapi dari sekian banyak bloatware itu, ada yang paling saya suka dan tak bakal Kalian temukan di smartphone selain Samsung, apalagi kalau bukan Samsung Gift. Ya, zaman sekarang siapa sih yang tidak mau barang diskonan!

Oke, untuk yang sudah bertanya perbedaan One UI antara Samsung Galaxy A30 dan Galaxy A50 di mananya? Jawabannya tidak ada!

Kecuali satu hal, yaitu di opsi biometrik sensornya. Yang mana Galaxy A50 ini lebih mewah karena sudah dibekali sensor sidik jari di layar. Dengan teknologi yang lebih modern, apakah lebih nyaman dipakai?

Setelah mencoba beberapa hari, ternyata tidak cukup nyaman memakai on-screen fingerprint ini. Jempol harus sedikit menekan layar supaya dikenali. Sampai sehari sebelum artikel ini dibuat ada update software di Galaxy A50 yang katanya sih untuk meningkatkan kinerja on-screen fingerprint ini.

Well, setelah update memang ada sedikit sekali peningkatan meski menurut saya masih lebih nyaman fingerprint fisik di sisi belakang dari Galaxy A30.

Kamera depan keduanya juga sudah support face-unlock yang menjadi alternatif kalau tangan sedang kotor dan tidak memungkinkan untuk menyentuh smartphone.

Lalu dari segi responsifitasnya sendiri ya biasa-biasa saja sih tidak terlalu cepat tapi juga tidak terlalu lambat.

Kamera

Bicara soal kamera, sektor ini biasanya menjadi pertimbangan. Galaxy A30 ini cuma dibekali 2 kamera belakang dengan konfigurasi sensor kamera utama plus ultra-wide angle.

Sementara kamera Galaxy A50 ini sudah triple yang lebih lengkap dengan tambahan depth-sensor. Ultra-wide angle-nya masih sama-sama dipertahankan keduanya.

Dan memang, ini menjadi nilai jual utama yang seksi di kelasnya. Tidak mau bedanya cuma segitu saja, Samsung memberi resolusi yang lebih tinggi di kamera belakang Galaxy A50, yaitu 25MP.

Sempat mencoba di awal-awal, ternyata resolusi di 25MP ini tidak bisa didapatkan di settingan default. Karena default-nya hanya maksimal di 12MP.

Loh, kok begitu?

Ya, resolusi 25MP ini baru aktif saat Kalian mengubah rasio ke 4:3 yang versi High. Agak menyesatkan yah, tapi memang A50 ini tidak bohong sih karena opsi untuk itu memang ada.

Lalu bedanya foto 12MP vs 25MP juga tidak kelihatan terlalu signifikan selain ukuran file-nya yang hampir 2 kali lipat lebih besar. Sementara kalau dibandingkan dengan kamera 16MP Galaxy A30 dengan scene optimizer yang sama-sama aktif ternyata tone warnanya bisa berbeda loh di beberapa kondisi tertentu.

Banyak yang bilang kalau Galaxy A50 lebih cool sementara kamera Galaxy A30 ini cenderung lebih warm. Ya, ini lagi-lagi soal selera sih. Kalau kamu sendiri lebih suka yang mana?

Untuk kamera ultra-wide angle-nya meski berbeda resolusi, saya tak melihat perbedaan yang cukup signifikan. Yang jelas, angle yang luas di 123 derajat seperti ini asik sekali untuk foto-foto pemandangan tanpa harus mundur-mundur mencari angle yang pas demi bisa masuk frame semuanya.

Well, kembali lagi ke absennya depth sensor di Galaxy A30 ternyata tak membuat smartphone ini kehilangan fitur bokeh alias live focus. Masih bisa jepret-jepret foto bokeh lewat kamera utamanya tapi tentu saja berbeda kalau dibandingkan dengan Galaxy A50 yang lebih terbantu oleh depth sensor di lensa kamera ketiganya. Miss-blur lebih bisa diminimalisir di Galaxy A50.

Dan lagi-lagi harga memang tidak bohong yah. Foto di siang hari memang cakep, tapi bagaimana saat dipakai foto-foto di lowlight?

Sorry to say, di sini Galaxy A30 dan A50 agak ketinggalan dari para pesaingnya. Ini karena mereka tak punya kamera mode malam. Ada sih scene optimizer yang mengatur settingan terbaik di malam hari, tapi ya tak begitu maksimal.

Foto lowlight-nya sebenarnya tidak terlalu buruk. Bukaan lensa keduanya juga sudah lebar, di f/1.7. Tapi tentu kalau ada mode malam khusus, warnanya saat foto gelap-gelapan bisa lebih pop up.

Yang menarik dari kedua smartphone ini, resolusi kamera depannya dibuat sama persis dengan kamera belakang. Lengkap dengan fitur live focus untuk foto bokeh-bokehan. Hasilnya juga not bad lah.

Meski tidak bisa perfect blur-nya, kamera depan 25MP di Galaxy A50 itu tidak praktis langsung bisa dipakai. Harus mengubah rasio ke 4:3 yang versi High. Tapi untuk tone warna, menurut saya hasil selfie-nya Galaxy A50 ini lebih natural dan juga tajam.

Entah karena memang tidak didesain sebagai smartphone selfie fitur beauty keduanya juga sangat-sangat minimalis. Untungnya masih terbantu oleh fitur AR Emoji untuk seru-seruan membuat foto profile atau instastory.

Merekam Video

Di era audio-visual seperti ini, kamera video juga biasanya menjadi pertimbangan saat memilih smartphone. Di sini keduanya kompak dengan resolusi maksimal di Full HD.

Tidak ada OIS tapi sudah support EIS untuk menciptakan hasil video yang lebih stabil meski dipakai sambil berjalan. Lalu, warnanya juga cukup oke, meski dari segi tone warna agak berbeda ini Samsung Galaxy A30 dan A50.

Mana yang lebih baik sih?

Nah, bagi yang hobi merekam video slow motion atau hyper-lapse untuk mempercantik konten vlogging sepertinya memang harus menabung dan mengambil Galaxy A50 deh karena 2 fitur ini absen di Galaxy A30.

Performa

Desain bodi belakang berbeda, kamera juga berbeda dan ternyata dapur pacunya pun berbeda. Meski sama-sama diotaki oleh chipsey Exynos sudah jadi teori pasar, kalau harga yang lebih murah akan mendapat spek yang lebih rendah.

Kedua chipset ini bisa dibilang baru. Galaxy A30 dengan Exynos 7904, sedangkan Galaxy A50 menggunakan Exynos 9610.

Seberapa jauh sih perbedaannya?

Well, meski sama-sama Octa-core, Exynos 7904 ini memakai konfigurasi core hemat daya yaitu 6 cortex A53, plus core untuk performa yaitu 2 cortex A73.

Sementara di 9610, yang disuruh ngebut ada 4 core dengan clockspeed yang digeber sampai 2.3 GHz. Sedangkan 4 core sisanya untuk kebutuhan yang ringan.

Ya, itu angka-angka di atas kertas saja tapi memang performanya benar-benar berbeda jauh tidak sih?

Saat diadu membuka aplikasi secara bersamaan memang Exynos 9610 ini lebih gercep! Meskipun cuma berbeda sepersekian detik. Membuka Twitter, Instagram, Chrome sampai Antutu, Exynos 7904 ternyata lumayan bisa mengimbangi kecepatan yang ditawarkan oleh Exynos 9610.

Perbedaannya mulai kelihatan saat membuka game. Bahkan sangat terasa perbedaan kecepatannya. Ya, selain beda clockspeed, lalu konfigurasi cortex-nya Exynos 9610 ini juga lebih unggul dari segi arsitektur yang sudah 10nm.

Well, smartphone Rp 4 jutaan sudah memakai 10nm?

Correct me if I’m wrong, saat ini saya rasa baru ada di Galaxy A50. Rasanya sudah banyak yang membahas soal performa gaming yang fantastis di Samsung Galaxy A50.

Gaming

Beberapa review menjelaskan kenapa Galaxy A50 itu bisa memainkan PUBG Mobile di 60fps. Tapi entah kenapa ya, di Galaxy A50 saya tidak pernah tembus fps segitu. Meski setting grafis-nya sudah rata kanan, cuma tembus di 33fps, dengan tingkat kestabilan 88%.

Tapi okelah ya, dengan GPU yang sebenarnya tidak terlalu baru, yaitu Mali-G72 MP3 bisa memainkan PUBG Mobile dengan fps tinggi tanpa mau dipakai GFX Tool ini bisa dibilang sebuah poin plus.

Sementara performa gaming Galaxy A30 tidak terlalu spesial. Kalau cuma melihat jeroan, ini sih standard smartphone Rp 2 jutaan saja. Untuk dipakai main PUBG Mobile hanya bisa dapat setting grafis default rata tengah alias medium.

So far, 15 menit main game dapat 24fps dengan tingkat kestabilan 74%. Angka yang kurang bisa dibanggakan sebenarnya untuk ukuran smartphone Rp 3 jutaan.

Ya, meski diberi chipset yang tidak se-ngebut saudaranya Galaxy A30 ini masih dikasih storage yang luas, 64GB dan RAM 4GB. Standard smartphone mid-range zaman now yang cukup lapang untuk kebutuhan multimedia.

Baterai

Urusan baterai, keduanya kompak memakai baterai yang cukup jumbo di kelasnya yaitu kapasitas 4000 mAh. Serasa memakai smartphone Xiaomi yah. Kapasitas baterai sebesar ini, membuat keduanya bisa saya geber seharian penuh.

Seharian itu tidak cuma melototin sosial media, menanggapi group WhatsApp keluarga atau menonton Netflix berjam-jam saja yah! Gaming tetap digeber berjam-jam juga, sampai bosan sendiri baterai ini kapan habisnya.

Screen-on time yang saya dapatkan rata-rata di kisaran 6-7 jam dengan brightness layar di level 25%. Arsitektur 10nm di Exynos 9610 yang katanya lebih hemat juga tidak terlalu terbukti di sini. Relatif sama kalau dibandingkan.

Karena cortex A73 yang dipakai untuk ngebut di Galaxy A50 itu memang digeber di clockspeed yang tinggi. Jadi, ya ujung-ujungnya butuh power lebih. Untuk battery life Galaxy A50 di PC Mark tembus 10 jam. Dengan kecerahan layar di 50%.

Tapi sayang sekali, saya tidak bisa membandingkan dengan battery life A30, karena sudah 5 kali menguji battery life-nya di PC Mark selalu force closed. Alhamdullilah, Samsung sudah memberi charger 15 watt yang sudah support fast charging.

Ini sangat berguna sih untuk smartphone yang baterainya jumbo seperti Galaxy A30 dan A50 ini. Tapi, ada yang menarik nih. Meski chargernya sama, baterainya juga sama tapi waktu isi ulangnya berbeda.

Ya, di sini Galaxy A30 butuh waktu sekitar 1 jam 44 menit untuk isi ulang baterai dari 10% sampai 100%. Sementara, Galaxy A50 dengan kondisi yang sama waktu chargingnya lebih lama, hingga 2 jam 19 menit.

Memang sih masih masuk kategori cepat untuk ukuran baterai 4000 mAh. Tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa waktu chargingnya bisa berbeda lebih dari 30 menit!

CONCLUSION

Oke, sebelum masuk ke kesimpulan, ada 1 pertanyaan lagi yang belum terjawab. Dengan harga yang lebih mahal, apakah Galaxy A50 ada NFC?

Jawabannya tidak ada. Memang sangat disayangkan, tapi hal ini tidak menjadi deal-breaker bagi saya, mengingat banyak fitur-fitur yang lebih saya butuhkan di sini, dan menutupi kekurangan tadi. Dan perlu kamu ingat, ini ‘kan bukan smartphone flagship.

Oke, jadi kesimpulannya sebaiknya ambil Galaxy A30 atau Galaxy A50?

Jawabannya tergantung. Kalau ada budjet Rp 3-4 jutaan, tapi cuma butuh kamera ultra-wide angle performa yang penting lancar untuk multitasking dan lebih nyaman memakai fingerprint di belakang, saran sih sebaiknya ambil langsung Galaxy A30.

Mungkin uang yang tadinya untuk tambahan membeli Galaxy A50 bisa Kalian pakai untuk kebutuhan yang lain contohnya seperti membeli screen protector atau jelly case untuk Galaxy A30-nya.

Tapi memang sih, gradasi warna yang ditawarkan Galaxy A50 ini cukup menghipnotis. Dan kalau kamu lebih sering foto-foto bokeh depth-sensor di kamera ketiga Galaxy A50 jelas sangat dibutuhkan, apalagi buat kamu yang doyan bermain PUBG Mobile dengan grafis super-smooth.

Duh, sepertinya Galaxy A50 ini agak sayang ya untuk dilewatkan. Karena mungkin kamu tak akan menemukan experience yang sama di smartphone lain sekelasnya. Setidaknya untuk saat ini. Murah atau mahal, semuanya kembali lagi pada selera, kebutuhan dan yang pasti budget kamu.

Sampai jumpa di artikel lain sob!!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of